SAMSAT : Masih Ada Pe Er yang Harus Diselesaikan

Langkah pemerintah untuk menertibkan para calo di lokasi pembuatan SIM rasanya cukup membantu. Terutama saat dioperasikannya pelayanan Samsat dan SIM keliling di beberapa titik di wilayah Jakarta. Bahkan untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat dalam melayani pembayaran pajak kendaraan, perpanjangan STNK ataupun perpanjangan SIM, kepolisian juga menghadirkan gerai samsat di pusat-pusat perbelanjaan.

Upaya ini cukup membantu masyarakat karena tak perlu lagi harus pergi ke satu tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal. Sebut saja Pasar Rebo dan sekitarnya, tak perlu lagi jauh-jauh pergi ke Daan Mogot untuk menunaikan kewajibannya memperpanjang masa berlaku SIM. Mereka cukup datangi titik-titik yang dijadikan tempat mangkalnya pelayanan samsat dan sim keliling.

Saat saya sendiri melakukan perpanjangan SIM, saya tak perlu lagi jauh-jauh datang ke Daan Mogot, karena kebetulan saya tinggal dikawasan Jakarta Selatan. Waktu ini saya datangi tempat mangkalnya mobil pelayanan samsat dan SIM keliling di lapangan parkir Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun sayangnya, hari itu mobil pelayanan keliling sedang berada di kawasan Manggarai. Karena di Jakarta Selatan sendiri telah ditetapkan tiga kawasan sebagai tempat mangkalnya mobil pelayanan keliling tersebut. Kalibata, Manggarai dan Ragunan.

Berhubung saat itu hari kerja, saya tak ada banyak waktu untuk mengejar mobil itu ke kawasan Manggarai. Langsung tervesit untuk kembali ke kantor. Ternyata yang mencari mobil pelayanan samsat dan SIM keliling itu tak hanya saya, ada beberapa orang yang juga sedang kebingungan, kemana harus mencari tempat mangkalnya mobil itu.

Akhirnya saya putuskan untuk bertanya kepada tukang parkir yang kebetulan setiap harinya mangkal di Kalibata, kapan mobil pelayanan keliling itu akan ada lagi di kalibata. Namun jawabannya tak sesuai dengan apa yang saya tanyakan, tapi dari jawaban itu sangat membantu. Tukang parkir itu menyuruh saya datang ke Pasar Grosir Cililitan (PGC). “Di PGC aja mas, di lantai 6. Disana ada kok tempat pelayanan SIM dan STNK,” imbuhnya.

Segera saya bergegas meluncur ke sana. Namun sangat disayangkan, petugas yang berjaga saat itu menyarankan saya untuk kembali lagi besok, karena pelayanan hanya sampai jam 2 siang. “Besok saja mas datang lagi, sekarang sudah penuh, tapi kalau mau nunggu tak papa kita buka sampai jam dua kok,” papar petugas kepada saya.

Saya pikir masalah selesai sampai disitu, karena kalau sampai jam dua, saya bisa pergi lagi saat jam makan siang berhubung jarak kantor dan PGC hanya sekitar 3 km. Ternyata masih ada “TAPI”nya.

“Tapi itu kalu jam dua sudah selesai semua. Kalau belum semua selesai, saya kembalikan SIM nya,” ujar petugas. Akhirnya saya ambil keputusan untuk datang besok pagi.

Tepat pukul 8.30 keesokan harinya saya sudah hadir di gerai pelayanan SIM di PGC. Terlihat sekitar 7 orang mengantri, saya mendapat urutan ke 4.

Tibalah giliran saya yang dipanggil untuk mengurus perpanjangan SIM. Disela-sela proses perpanjangan SIM saya menanyakan kepada petugas. Saya menanyakan kenapa banyak orang yang tak bisa dilayani? Apa karena jumlahnya dibatasi?

“Jumlah SIM yang diproses per hari memang dibatasi mas, karena gak mungkin kami layani semua. Yang jadi masalah bukan karena kami tak mau capek melayani banyak orang, tapi komputer yang ada sanagat lambat prosesnya mas, alias lemot. Itulah yang membuat lamanya proses perpanjangan SIM,” jelasnya.

Memang saya perhatikan, petugas lebih banyak menunggu komputer memproses suatu perintah dari pada kalimat yang harus diketiknya. Sambil memperhatikan petugas itu menunggu komputer bekerja, saya mengerutkan kening karena heran.

Sambil heran saya bertanya, Kok lambat banget pak? Apa kapasitas komputernya yang memang tak layak untuk menjalankan program itu?
“Komputernya sih sebenrnya cukup cepat mas, Cuma yang jadi masalah adalah transfer data dari jaringan kami ke kantor pusat. Kantor pusat bilang sistem kita sudah bagus, ini pasti bermasalah dari jaringan Telkomnya. Tapi pihak Telkom pun mengatakan demikian, sistem jaringan kita sudah bagus dan benar, ini pasti yang bermasalah dari jaringan samsatnya. Keduanya sama-sama mengklaim bahwa jaringan mereka bagus dan benar. Kami yang ada disini jadi obyek penderita mas. Kita yang kena marah oleh masyarakat,” jelas sang petugas tadi.

Melihat kondisi yag dialami petugas pelayanan SIM yang mengatakan bahwa merka hanya menjadi obyek penderita, menjelaskan bahwa pemerintah masih punya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Demi kelancaran dan ketenangan bersama, hal ini harus segera di tindak lanjuti, sebelum masalah lain dan akan menjadikan semua nya menjadi lebih parah. Bukankah mencegak lebih baik daripada mengobati?

About Go Jay
Motivator Diri Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: