Kamu

Pagi itu, Senin 5 Juli 2010, jarum jam masih enggan beranjak dari angka 7, suasana kantor masih sangat sepi. Terlihat hanya seorang scurity bernama Herman yang berjaga di depan gerbang kantor dan seorang office boy bernama Hasyim sedang memindahkan tumpukan sampah kertas ke mobil pengangkut sampah.

Hari itu adalah hari pertama Nathan menginjakkan kaki di sebuah kantor yang bergerak dibidang periklanan. Kebiasaannya datang lebih awal terkadang menyusahkan dirinya, karena pintu kantor yang berada di lantai 2 sebuah gedung perkantoran di bilangan Jakarta Selatan, sering kali masih terkunci dan membuat dirinya harus menunggu di depan pintu selama15 menit bahkan terkadang hingga 30 menit untuk menunggu pintu dibuka.

Duduk di jajaran meja paling belakang yang menghadap pintu masuk, membuat Nathan bisa memperhatikan ruang kantor yang masih kosong dan lalu lalang karyawan yang keluar masuk. Sebagai orang baru, dirinya hanya mampu memperhatikan siapa saja yang datang pagi itu.

“Orang ini pasti kameramen” gumam Nathan dalam hatinya saat melihat seorang pria masuk ruangan dengan kaos oblong dan celana pendek sambil membawa kamera.

“Wah, kalau yang ini siapa yah? dandanannya sangat berbeda dari lelaki tadi” tanya Nathan dalam hati saat seorang lelaki memasuki ruangan berukuran 350 meter persegi dengan pakaian rapi dan berdasi.

Kontor itu terbagi menjadi tujuh ruangan termasuk lobby dibagian depan. Melewati lobby merupakan ruang kerja utama dimana di sudut kanan merupakan ruangan CEO yang bersebelahan dengan ruang meeting besar dan ruang ruang desain grafis. Sementara di sudut kiri tedapat ruangan finance yang bersebelahan dengan ruang peralatan shooting. Sementara ruang kru dan beberapa staf kantor berada di tengah-tengah.

Jarum jam menunjuk pada angka 9, pagi itu keriuhan kantor baru tempatnya bekerja mulai terlihat. Sebagian seolah sibuk dengan kerjaannya sendiri dan sebagian lagi sibuk membicarakan prediksi pertandingan bola. Tak lama berselang, datang seorang pria berdasi menghampirinya.

Pria berdasi : Selamat pagi Pak Nathan. Saya Indra,

Nathan : Selamat pagi Pak, saya Nathan

Pria berdasi : Mari saya perkenalkan dengan kawan-kawan baru anda di kantor ini.

Nathan : Baik Pak, terimakasih.

Dengan sedikit rasa canggung, Nathan bersalaman sambil menyebutkan namanya. Tak seorang pun yang menunjukkan wajah sinis kepadanya. Semua begitu bersahabat dengan senyum dan sapaan selamat bergabung di Pointer Adv.

Dua minggu berlalu, keakraban Nathan sebagai Art Director sekaligus penulis naskah mulai menyatu dengan seluruh karyawan Pionter Adv. Namun ada sedikit yang mengganjal dalam hatinya. Karena meja di pojok kiri satu baris didepannya tak terlihat penghuninya sejak dirinya menginjakan kakinya di Pointer Adv.

Kendati tak mau memperdulikannya, namun sudut mata Nathan seolah tak mau berhenti untuk tak melihat meja kosong itu. “Itu meja siapa yah, kok kosong terus.” tanya Nathan dalam hati sambil memandangi meja tak berpenghuni dengan tumpukan buku dan beberapa file yang tertata rapi.

Hingga suatu ketika tanpa sengaja dirinya berdiri dibelakang meja tak bertuan itu. Matanya menatap pada sebuah foto kecil berukuran 4 x 6 cm didalam sebuah bingkai berwarna coklat yang terbuat dari kulit kerang. “Ohh mungkin orang ini sang penghuni meja yang hampir 3 minggu tak terlihat. Ternyata wanita toh.”

Foto itu terlalu kecil untuk mengetahui lebih jelas wajah sang penghuni meja tak bertuan. Selain itu, warnanya pun tak lagi cerah karena sudah dimakan usia.

Nathan tak terlalu memperdulikannya dan kembali duduk di meja kerjanya. Tapi sudut matanya masih saja sering mengarah ke meja tak bertuan itu.

Hingga suatu ketika dirinya harus keluar kota selama beberapa hari untuk shooting iklan sebuah produk makanan. Matanya tak lagi mengarah pada meja itu, namun tanpa disadari, otaknya selalu memikirkan siapakah gerangan penghuni meja kosong itu.

****

Pagi itu Nathan tampak lebih besemangat dari hari biasanya. Proyek iklan yang bernilai ratusan juta rupiah itu selesai dengan baik tanpa hambatan sedikit pun.

Usai memanaskan Gixxer 750 berwarna putih, dirinya langsung meluncur ke kantor. Seperti biasa, hadir lebih pagi seperti sudah menjadi hobinya. Pagi ini suasana jalan sedikit lebih lancar dari biasanya. Gixxer 750 bisa menembus kecepatan 130 kpj hingga 150 kpj. Tiba-tiba.. Kiiikkkkk,, brakkkk….

Suara benturan keras terdengar hingga 300 meter yang disambut dengan suara jeritan warga. Nathan terpental hingga 10 meter dari motornya.

Tanpa banyak basa-basi, gadis cantik bernama Tifanny keluar dari dalam mobil Honda Jazz bernomer polisi B 154 RSA sambil marah-marah.

“Dasar motor goblok… mobil gw hancur.. emangnya lo bisa ganti?” teriak gadis cantik itu.

Saat gadis cantik itu melihat kondisi motor yang hancur berantakan, dia shok berat melihat pengendara motor itu terpantal jauh, nada suaranya yang tinggi langsung merendah..

“Innalillahi.. Yaa Allah.. Mati gw..”

Gadis cantik itu benar-benar shok melihat kondisi Nathan yang berada jauh dari motornya. Hati dan otaknya  tak lagi bisa berpikir tenang. Hanya kematian si pengendara motor yang ada dalam pikirannya.

Puluhan warga berkerumun coba menolong Nathan. Beruntung, kelengkapan berkendara yang memadai mampu menghindari dirinya dari maut. Nathan hanya mengalami keseleo dan retak rulang kaki kirinya karena bantingan ke aspal yang cukup keras saat terpantal.

Saat warga membuka helm Nathan, tampak jelas tergambar di wajahnya sedang menahan rasa sakit dan mencoba menarik nafas perlahan. Selain menahan sakit karena retak pada tulang kaki kirinya, tubuhnya yang terbanting membuat dadanya terasa sesak hingga sulit bernafas.

“Tolong angkat ke mobil saya pak, kita bawa ke rumah sakit,” teriak sang gadis.

“Aaaarhhh….” Terdengar sedikit rintihan dari mulut Nathan menahan rasa sakit saat warga menggotongnya ke mobil sang gadis cantik itu. Nathan yang tak takuat lagi menahan rasa sakit dan sesak sempat mengalami pingsan hingga dirinya terbaring di ruang ICU.

Panik, khawatir, takut dan berjuta perasaan tak biasa berkecamuk dalam hati dan gadis cantik itu. Setelah Nathan masuk ruang ICU dan mendapatkan perawatan intensif dari tim medis serta segala urusan dengan keluarga Nathan selesai, Tifanny bergegas meninggalkan Rumah Sakit menuju kantor.

Sejuta pertanyaan muncul dari rekan sekantor gadis cantik ini. Gadis cantik yang murah senyum namun tegas dan berwatak sedikit keras ini bertingkah tak sepeti biasanya. Wajahnya muram dan panik.

“Hey.. kusut banget sih.? masih kurang lama cutinya.?” tanya Klara, rekan sekantor yang duduk di sebalah meja Tifanny.

Tifanny : “Mobil gw ditabrak Ra,” gumam Tifanny tak bersemangat.

Klara : “Serius loe..? terus yang nabrak udah lo hajar? udah ganti rugi? udah….”

Tifanny : “Sstttttt… Udah dehh jangan berisik gitu. Gw lagi pusing nihh,” sergah Tifanny agar Klara tak terlalu banyak bicara.

Klara : “Kenapa sih loe, gak kayak biasanya.? Biasanya loe paling marah kalo ada orang yang bikin salah sama loe.”

Tifanny : “Please doong.. bisa diem gak sih loe..” bentak Tifanny berharap Klara menghentikan pertanyaannya.

Klara : “ok..ok.. maaf kalo gitu..” Klara pun kembali ke mejanya karena permintaan maafnya pun tak direnspon Tifanny.

Hari itu Tifanny pulang lebih awal. Dirinya merasa kurang sehat akibat kejadian yang baru saja dialaminya pagi tadi.

“Gila.. bagus tuh cowok gak mati.. ngeliat motornya yang hancur lebur dan orangnya yang terpental jauh, gw gak bisa bayangin kalo orang itu gak pake perlengkapan naik motor,” gumam nya perlahan sambil mengehala nafas dari mulutnya yang berhias bibir mungil.

Kondisi tubuh Nathan mulai membaik, hanya kaki kirinya terpaksa harus di balut untuk penyembuhan tulang kakinya yang retak dan membuatnya harus menggunakan tongkat. Karena masih baru di Pointer Adv, tak banyak orang yang tau dan memperdulikan dirinya saat menjalani penyembuhan. Hanya satu dua orang saja yang menanyakan keadaannya, itupun hanya melalui BBM dan SMS.

Dua minggu berlalu, kondisi Nathan mulai membaik. Selama masa penyembuhan Nathan tak sempat mencukur cambang, jaggut dan kumisnya sehingga wajahnya terlihat sedikit berbeda.

Pagi itu Nathan pergi ke kantor dengan taksi.

Saking serius dengan pekerjaanya, Nathan tak terlalu memperhatikan orang yang keluar masuk ruangan. Dirinya hanya fokus pada pekerjaan yang tercecer saat dirinya sakit. Sedang asik bekerja, tiba-tiba terdengar suara wanita sedang berbisik membicarakan karyawan baru.

“Sstt.. Klara..,” sapa Tifanny kepada rekannya yang langsung disambung dengan pertanyaan “siapa cowok itu? anak baru ya..?”

Dengan wajah yang ditumbuhi rambut di janggut, cambang dan kumis, membuat Tifanny tak mengenali wajah Nathan.

“Iya.. Art Director sekaligus script writer baru,” jawab Klara..

“oohhh.” balas Tiffany sambil menganggut anggukan kepalanya.

Nathan yang merasa dirinya sedang dibicarakan, mengangkat kepala melihat siapa yang membicarakannya. Sedikit penasaran, Nathan bertanya dalam hati, “Gadis inikah penghuni meja yang telah lama kosong?”

Saat Nathan sedang memperhatikan dua gadis yang dia rasa sedang membicarakan dirinya, Tifanny menolehkan wajahnya kearah Nathan. Sontak Tifanny merasa terkejut melihat wajah Nathan. “Haahh.. bukannya nih cowok yang waktu itu nabrak mobil gw.?” tanya Tifanny dalam hati.

Nathan yang tak mengenali Tifanny, hanya tersenyum kecil saat matanya saling bertatap.

Besambung…….


About Go Jay
Motivator Diri Sendiri

2 Responses to Kamu

  1. lhaaaaaaa…bikin cerpen kok nanggung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: