Kenali Tanda-Tanda Serangan Jantung

Artikel ini saya copas dari email Pak Bro Indra Dwi Sunda, Head Corporate Communication PT YMKI.

Sila dibaca dengan baik, bagaimana penyakit mematikan ini menyerang dengan gejala yang tak diketahui oleh penderita..

Content Message
Fahmi Pahlevi A Arifin

Sabtu, 1 Oktober 2011

Perjalanan bersepeda Jakarta-Bandung yang telah direncanakan oleh om Tommy   dan kawan2 sudah  sangat saya tunggu2. Ini salah satu peluang untuk mengakrabkan diri dengan rekan2 dari latar belakang industri yang sama, apa lagi dibungkus dengan sebuah kegiatan sehobi.

Dari sisi percaya diri  — karena dulu pada tahun 2009 pernah mencoba melakukan perjalanan yang sama  — maka kurang lebih saya merasa mampu untuk menjalankannya kembali. Namun demikian, persiapan fisik yang saya lakukan menurut saya sangat minim.  Yang pertama, frekuensi saya bersepeda ber bike2work  menurun drastis 1 bulan terakhir. Libur lebaran menjadikan kesempatan bersepeda ke kantor menjadi berkurang. Yang kedua, kesempatan untuk berlatih serius – misalnya dengan melakukan latihan bersepeda dengan rpm konstan mengelilingi gelora senayan — hanya sempat saya lakukan satu kali.  Berbekal kondisi ini, saya putuskan untuk mengayuh sepeda secara perlahan2 saja.

Tepat pukul 6.00 rombongan memulai perjalanan dari McD Cibubur, ada 14 orang yang berkumpul. Hampir semua menggunakan hardtail dan roadbike. Hanya saya dan om Muslimin   yang menggunakan Seli. Saya tersenyum lebar ketika berkenalan dengan beliau. “Wah, ada partner nih sesama Seli”. Di sekitar Kota Wisata beberapa rekan yang menggunakan roadbike juga bergabung. “Seli on road nih om”, salah satu dari mereka menjabat erat tangan saya sambil melirik ke sepeda saya, “mustinya roadbike yah yang on road ya,om?” saya jawab sambil teringat dengan teman2 Seli yang sebagian sudah beralih ke id-selap seperti Endro dan Afif.

Sejam perjalanan berlangsung, di sekitar Cipeucang tangan kiri saya mulai terasa kesemutan. Saya micing2 mengukur sentring handle bar Seli saya. Siapa tau miring dan mengakibatkan tidak seimbangnya tekanan di tangan. Lalu saya raba karet ikatan Handphone pouch yang melingkari lengan kiri atas, saya kendurkan sedikit karena saya pikir bisa jadi ini penyebabnya.

Perjalanan saya lakukan dengan santai dan konstan, saya maintain rpm kayuhan ketika menemukan turunan yang disambung dengan tanjakan sehingga energi potensial yang saya dapatkan ketika jalan menurun bisa saya gunakan optimal untuk menghabiskan tanjakannya. Ini kebiasaan saya kalau menghadapi hal ini.  “biar cepat selesai tanjakannya,Cak ”, begitu biasaya kalau saya bersepeda bersama Agung Siswanto.

Jam 08.00 Udara masih sejuk, namun di beberapa ruas yang padat kendaraan, kesejukan itu terganggu dengan asap knalpot dan debu-debu yang beterbangan namun tidak banyak. Tidak lama dari Citra Indah, area persawahan sudah menanti. “Masih enak ya Mas kalau udara sejuk seperti ini, mudah2an kita nanjak di Cikalongkulon tidak terlalu siang, panasnya ngga enak” kata saya kepada salah satu peserta lainnya ketika kami mengayuh sepeda berendengan. Rombongan mulai terpecah, sebagian besar berjarak 200m di depan saja, sementara 5 di antara kami berada di kelompok kedua. Saat itu dengan kecepatan rata2 15-20kpj kami kira2 sudah menempuh jarak sekitar 35 km.

Menjelang pertigaan Cariu-Cileungsi, dalam waktu singkat napas saya sesak, punggung kanan terasa pegal dan terasa menembus hingga dada kanan depan, tenggorokan seperti tercekik, mirip dengan rasa sulit menelan kalau kita sedang radang tenggorokan. “Lha aneh, ini jalanan ngga nanjak, ngga apa2 kok tiba2 gempor begini ya?” kata saya dalam hati. Buru2 saya minggir dan membiarkan rekan2 yang lain lewat lebih dahulu. Saya sempat ambil foto-foto kawan2 yang lewat, untuk melengkapi dokumentasi tim. 3 orang pesepeda di belakang sayapun sudah melewati saya – menjadikan saya menjadi peserta terakhir.

Saya putuskan untuk rehat 10 menit, karena toh road captain pada saat briefing menyatakan bahwa setiap 2 jam sekali kita akan berhenti dan regroup. Dugaan saya rekan2 terpaut tidak lebih dari 5 menit di depan. Sehingga saya break saja duluan dan berencana menyusul ke lokasi break mereka dalam selang waktu ngga lama. Saya pilih tempat yang teduh, saya lepas helm dan kendurkan jersey dan pants saya agar darah mengalir lebih lancar. Angin sepoi-sepoi bertiup, dan lambat laun napas sesak saya reda, menyisakan pegal di punggung. Saya pun membakar rokok saya menikmati pemandangan ini.  Di kalangan perokok, saat2 berhenti seperti ini merupakan saat yang nikmat untuk menghirup asap rokok, paru-paru sedang dalam volume yang besar dan setiap isapan menjadi dalam. Hihihi… not a good habit actually. ;-p

10 menit berlalu, saya bangkit lagi dari duduk dan bersiap utk menyusul rekan2 ke titik regroup pertama. Baru mengayuh 5 menit, tubuh saya terasa sangat lemas. “This is really not me” kata saya.  Saat itu saya putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dengan teman2. Saya segera mempersiapkan proses kepulangan saya. Saya kabarkan ke tim agar mereka lanjutkan perjalanan tanpa saya, lantas saya hubungi supir saya untuk segera menjemput ke titik terdekat yang dimungkinkan yakni Mekarsari. Karena setelah Mekarsari, ada sebuah lokasi yang selalu macet parah sehingga akan sangat membuang waktu kalau mobil saya minta untuk datang ke tempat saya berada.

Jam 08.30 saya cari tempat makan terdekat yang available. “Mbak, punya makanan apa yang hangat-hangat?” Tanya saya ke pramusajinya. Tak lama saya sudah menikmati soto daging dengan nasi dan teh manis panas. Jam 09.00 saya kembali bersepeda menuju Mekarsari. Udara semakin panas, dan badan saya semakin lemas. Setiap tanjakan yang saya lewati terasa panjang dan lama. Sesekali saya lirik angkot yang lewat, tapi yang terbayang di kepala adalah “mendingan bersepeda, karena jaraknya toh hanya 20km lagi, belum lagi nanti nembus macet segala”. Jadilah perjalanan kembali ke mekarsari saya jalani dengan bersepeda.

Singkat cerita, jam 11.00 saya berjumpa dengan driver saya yang telah menunggu di Mekarsari. Jam 13.00 saya sudah tiba di rumah. Sepanjang siang yang bisa saya lakukan hanya tidur sejam—terbangun– –segar–terasa sesak napas—usaha menarik napas lebih banyak sampai lemas—dan akhirnya tertidur lagi sejam karena lemas.

Hingga magrib, siklus itu berulang selama 5 kali. Saya mulai penasaran dan mulai membuka ensiklopedi kesehatan “Dokter di Rumah Anda” yang ada di perpustakaan kecil kami. All symptoms lead to heart attack! Tapi mengapa kok ngga seperti di film-film ya? Maksudnya… ya… ngga ada pingsan-pingsan geleper-geleper gitulah ;-p Jadilah saya anggap kesimpulan itu 50:50. Saya menghindari pergi konsul ke RS di hari libur karena sadar layanan yang tersedia hanyalah dokter jaga di UGD.  Saya lanjutkan istrihat saya, dan benar pada minggu pagi badan saya sudah segar kembali walaupun kesulitan bernapas masih tersisa. “Ini mungkin saya alergi dengan debu, kemarin debunya banyak sekali di sekitar Mekarsari” begitu kata saya ke keluarga. “Lihat tuh, sepedaku jadi abu2 gitu warnanya”. Kegiatan di rumah normal, naik tangga, gendong anak saya yang terkecil (3 tahun) bahkan sebatang dua batang rokok ;-p

Senin 3 Okt 2011

Senin  pagi saya konsul ke dokter internist Dr. E. Merry Wintery, Sp.PD di RS Medistra – dekat rumah kami. Saya ceritakan gejalanya dan segera diperiksa dengan EKG. Dokter menyimpulkan “Ini serangan jantung!” katanya.  Kita harus segera observasi.  Ada dua cara observasi jantung yakni dengan CT Scan atau dengan Catheter  yang dilanjutkan dengan tindakan PCI.

Namun demikian, CT Scan hanya dapat dilakukan kalau enzim jantung dalam batas wajar. Enzim ini disekresikan oleh jantung sebagai reaksi natural pada saat kestabilan jantung terganggu. Ketika sel-sel jantung mengalami kerusakan, enzim-enzim yang dilepaskan beredar bersama aliran darah. Setelah sebuah serangan jantung, kadar sebagian enzim ini langsung naik, tetapi selanjutnya enzim-enzim tersebut lekas mengurai dan karena itu tidak terdeteksi lagi setelah sehari atau dua hari; ada enzim yang baru dilepaskan beberapa jam atau bebera hari kemudian tetap tinggal dalam darah selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu, seperti dijelaskan padahttp://id.wikipedia.org/wiki/Serangan_jantung.

Dan berhubung enzim tersebut muncul dalam kejadian serangan saya, maka tindakan Cath yang bisa dilakukan,. Jika ternyata dokter menemukan sumbatan, dokter menyarankan untuk langsung melakukan pemasangan stent/cincin.

Beruntung dokter Merry dapat membantu saya untuk mendapatkan giliran PCI hari ini juga dengan Prof. Dr. T. Santoso S., MD, FACC, FESC. – sesuatu yang bagi pasien lain, harus antri berhari-hari sebelumnya.

Saya sempatkan utk memberi kabar ke Ayah saya. Beliau, ayah sekaligus sahabat saya dalam bertukar pikiran – juga dalam hal kesehatan. Bertahun-tahun sebelumnya saya setia mendampingi beliau berobat jantung. Ya betul, beliau juga inherit penyakit jantung dari kakek saya. Dan saya tinggal menunggu hal tsb untuk terjadi di saya. “Ayah, akhirnya Adek minum obat Plavix dan Ascardia. Hahaha…akhirnya kita sama” canda saya.

PCI dilakukan pukul 20.15, dan selesai pukul 21.00. Bius local hanya di pergelangan tangan kanan tempat guidewire bagi cath, balloon dan stent dimasukan. Selama proses saya menyaksikan di layar display di samping saya. Sekali dua, Prof. Santoso menjelaskan mengenai apa yang sedang terjadi dan memang ada pembuluh darah jantung yang tersumbat – ini yang mengakibatkan saya sesak napas – sehingga solusinya adalah pemasangan stent/ring agar pembuluh tersebut terbuka kembali.

Karena proses bius local, maka setelah tindakan saya tetap bisa berkomunikasi dengan rekan-rekan. Aku masih jawabin bb message satu persatu toh ;-p. Hanya butuh waktu 5 jam utk mengeringkan luka akses di tangan kanan.

Ada satu hal yang membuat saya cukup tenang mengenai hubungan serangan jantung dengan kebiasaan saya bersepeda. Dokter mengatakan “Otot jantung anda sangat elastis dan terlatih, jika saja anda tidak terbiasa berolahraga, maka serangan jantung yang terjadi pada hari sabtu tidak dapat anda tahan sekuat dan selama itu”.  Alhamdulillah.

Bersepeda, berbahaya bagi jantung? Jelas Tidak

Apakah kegiatan bersepeda pada hari Sabtu tsb adalah hal yang ekstrim? Saya pikir tidak. Selama itu dilakukan dengan terlatih dan bertahap, saya pikir semua orang dapat mencapai performa dan kebugaran yang dibutuhkan.

Inilah fakta2nya yang saya jalani, silahkan rekan2 simpulkan sendiri yah ;-p

1. Saya bersepeda rutin ke kantor bejarak 10km dan saya lakukan 3 kali seminggu. Namun setelah libur lebaran, hal tersebut belum saya lakukan lagi.

2. Latihan cadence dan endurance – dengan cara bersepeda non stop 10 lap di gelora — hanya saya lakukan satu kali, yakni 2 hari sebelum perjalanan dilakukan.

3. Pasca puasa, berat tubuh sangat ideal dan merokok sangat berkurang.

4. Saya akhir2 ini gemar makan sate kambing – apalagi setelah pindah ke kantor pusat — dan makanan padang, dengan penuh keyakinan bahwa hal-hal tersebut dapat terbakar dengan baik pada saat bersepeda.

5. Saya rutin melakukan annual General Check Up.  Hasil EKG selalu menunjukan catatan “Aritmia, mohon konsul dokter jantung”. Sementara hasil Tread Mill selalu ditutup dengan acungan jempol dari sang operator “Bapak, hebat! Heart Beat tetap bisa di-maintain padahal ini sudah setelan beban terberat, lho”. Ini saya tutup dengan cengiran penuh ke-ge-eran.

6. Malam sebelum berangkat, jam 02.00 – 03.00 saya masih melakukan pengecekan terakhir sepeda saya.

7. Pagi sebelum melakukan perjalanan, saya awali tanpa pemanasan sama sekali.

Saya juga coba checklist dengan apa yang saya peroleh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Serangan_jantung

Faktor-faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner

  • Memasuki usia 45 tahun bagi pria. — mmm aku masih 38 tahun ;-p

Sangat penting bagi kaum pria untuk menyadari kerentanan mereka dan mengambil tindakan positif untuk mencegah datangnya penyakit jantung.

  • Riwayat penyakit jantung dalam keluarga  – yep ini betul.

Riwayat serangan jantung di dalam keluarga sering merupakan akibat dari profil kolesterol yang tidak normal.

  • Diabetes. — nope

Kebanyakan penderita diabetes meninggal bukanlah karena meningkatnya level gula darah, namun karena kondisi komplikasi jantungmereka.

  • Merokok.  – mmm….ya betull

Resiko penyakit jantung dari merokok setara dengan 100 pon kelebihan berat badan – jadi tidak mungkin menyamakan keduanya.

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi). – marginal
  • Kegemukan (obesitas) – untungnya tidak

Obesitas tengah (perut buncit) adalah bentuk dari kegemukan. Walaupun semua orang gemuk cenderung memiliki risiko penyakit jantung, orang dengan obesitas tengah lebih-lebih lagi.

  • Stress.

Banyak penelitian yang sudah menunjukkan bahwa, bila menghadapi situasi yang tegang, dapat terjadi arithmias jantung yang membahayakan jiwa.  – ya, di dua GCU terakhir saya selalu disebut2 memiliki aritmia.

About Go Jay
Motivator Diri Sendiri

2 Responses to Kenali Tanda-Tanda Serangan Jantung

  1. ardiantoyugo says:

    wow… panjang bener mas Om…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: