“Conclusi” Inclusi Band… Cacat Fisik Tak Membuat Mereka Terhina

Conclusi 2Beberapa waktu lalu ane liburan bareng keluarga ke Bandung naik kereta Argo Parahyangan dari Gambir. Jujur, ini pengalaman pertama naik kereta api ke luar kota. Ternyata naik Argo Parahyangan kelas Executive dengan harga tiket Rp 90.000 per orang sangat nyaman. Bahkan lebih nyaman dari naik pesawat kelas ekonomi, soalnya kursinya empuk, besar, ruang kaki luas. Tapi waktu tempuhnya lebih lama dari naik pesawat. Ya iyalaahh.

Tiga hari dua malam di Bandung cukup mengendurkan syaraf yang tegang akibat tekanan pekerjaan. Keliling-keliling Bandung mulai dari FO ke FO, wisata kuliner, main ke Kampung Gajah, nikmati malam di Punclut terus menembus terjalnya jalan ke Cartil (Caringin Tilu) bikin lupa sama kantor. Tapi apa daya, waktu liburan sudah berakhir. Time to come home.

Minggu sore sekita jam 14.00 ane sudah sampai di Stasiun Bandung. Masih ada 30 menit sebelum masuk ke ke kereta. Di sisa waktu sebelum masuk ke kereta, ane dan keluarga beli makan kecil dulu sambil duduk-duduk manis di depan gerai penjual makanan kecil di dekat loket. Sambil menikmati makanan kecil dan minuman dingin, terdengar alunan musik yang dibawakan oleh pengamen yang ada di dalam stasiun.

Kalau bro en sis sering naik kereta ke Bandung, pasti tau kalau di dalam stasius ada grup band yang ngamen menghibur para calon dan penumpang kereta yang menunggu keberangkatan. Posisinya di dekat pintu keluar/masuk stasiun atau dekat jejeran kursi tempat penumpang menunggu keretanya datang. Atau sebut saja ruang tunggu.

Conclusi 1Dari jauh, suaranya terdengar keren. Permainan alat musiknya juga lumayan asyik di dengar, apalagi kalau lagu-lagu yang mereka mainkan adalah lagu kesukaan mereka. Nyaris sempurnaa.

Saat ane masuk dan melewati petugas panjaga tiket, ane menunggu di ruang tunggu. Dari kejauhan ane melihat 5 anak muda sedang perform. Ane gak merhatiin tampang mereka, karena ane keasyikan dengerin nyanyian mereka sambil bersandar di kursi. Saat mereka mulai menyapa para calon penumpang, ane baru melihat ke arah mereka.

Saat ane perhatiin, sepertinya ada yang aneh. Langsung saja ane deketin. Dan…… Ane langsung menyebut nama Allah. Antara kasihan, kagum dan sedih. Ternyata ke-5 anak muda ini punya kekurangan fisik. Maaf, mereka adalah orang-orang dengan cacat fisik.

Melihat mereka bermain musik, ane makin penasaran. Ane pidah kursi ke dekat mereka biar bisa menyaksikan lebih dekat. Akhirnya gak tahan ingin mengabadikan aksi panggung mereka dengan smartphone. Setelah mereka selesai menyanyikan lagi milik Fatur, ane langsung deketin salah satu dari mereka. Ane ngobrol singkat dengan orang yang main Cajon, atau gendang seperti kotak dari kayu. Dia bernama Rizkar.

Conclusi 3Rizkar menderita low vision. Atau daya lihatnya sangat kurang, hanya samar-samar saja dan harus dari jarak dekat. Dari hasil ngobrol singkat itu ane katahui ternyata mereka adalah sebuah grup band yang menamakan dirinya sebagai Conclusi Inclusi. Grup band ini berisi pemuda-pemuda dari berbagai daerah di Indonesia yang tinggal di Bandung dengan kondisi fisik yang tak sempurna. Ada yang buta total, tangan tak sempurna, hingga tak punya mata.

Meski demikian, mereka mampu menunjukkan kemampuan mereka bermusik di Stasiun Bandung, Jawa Barat. Dan mereka membuktikan bahwa kekurangan fisik bukanlah halangan bagi mereka yang mau berusaha dan yakin bahwa Tuhan YME itu bersama mereka.

Conclusi 4Mereka jauh lebih mulia ketimbang kita yang punya tubuh sempurna tapi malas. Lebih memilih menjadi pengemis. Menadahkan tangan kepada orang yang lewat dengan berpura-pura susah. Seperti yang ane baca via broadcast bbm tentang wacana Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, yang ingin mempekerjakan para pengemis untuk menjaga kebersihan kota Bandung dengan gaji Rp 700.000/bulan, tapi mereka menolak dengan alasan gaji yang ditawarkan terlalu kecil. Mereka meminta gaji Rp 4 juta – Rp 10 juta/bulan. Di balik itu benar atau tidak, setidaknya itu mengindikasikan bahwa dengan mengemis mereka punya uang lebih banyak dari pada tukang sapu jalan.

Bukti lain kalau mengemis itu menjanjikan adalah tertangkapnya seorang nenek oleh Satpol PP. Saat diperiksa, di tasnya terdapat uang sebanyak Rp 3.5 juta dari hasil ngemis selama 2 hari. Najooong dahhh. Gimana mereka nggak keranjingan ngemis kalau hanya menadahkan tangan di lampu merah mereka bisa punya uang jutaan rupiah hanya dalam 1 hari saja. Pantes aja orang malas makin menjamur di negeri ini.

Kembali ke pembahasan pengamen yang cacat itu, mereka lebih mulia karena meski cacat tapi mereka tatap bekerja. Ketimbang kita yang normal tapi hidup dari meminta-minta.

Kehadiran band Conclusi Inclusi di Stasiun Bandung cukup menghibur para penumpang yang sedang menunggu kereta dan mereka pun bisa mendapat penghasilan dari calon penumpang yang rela menyisihkan sedikit rezkinya setelah mendengarkan suara mereka.

Conclusi Inclusi berisi Rizkar pemain Cajon, Agung pada Bass, Aris dengan Gitar Listrik, Teguh pada Gitar Akustik dan Vokalis Femi.

Jadi conclusi Inclusi nya…? Ane harus banyak bersyukur dan bekerja keras. Kalau buat bro en sis, terserah bro en sis semua, kembali ke diri masing-masing aja dahh..🙂 Tapi setidaknya mereka telah memberi contoh kepada kita, kekurangan bukanlah kelemahan. Jangan tonjolkan kekurangan, tapi berdayakan kelebihan.

Semoga bermanfaat.

About Go Jay
Motivator Diri Sendiri

2 Responses to “Conclusi” Inclusi Band… Cacat Fisik Tak Membuat Mereka Terhina

  1. Ronald says:

    maaf, saya mau koreksi nama grup yang anda post di atas. Namanya bukan conclusi, tapi inklusi. Saya juga pernah bergabung di sana (edisonal player).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: