Coba Dari Dulu Melatih Pembalap Indonesia Kayak Gini, Pasti Sekarang Kondisinya Berbeda

Yamaha Riding Academy -YZF-R6 9Ada hal menarik nih bro en sis di Yamaha Rading Academy (YRA) kali ini. Kalau tahun-tahun sebelumnya pembalap yang dididik di YRA cuma dilatih skill, riding style, fisik, sikap dan balapan dengan motor bebek, dan balapan dengan motor sport 150cc atau kadang-kadang 600cc, di YRA sekarang total numpak motor sport 600cc nya Yamaha YZF-R6 nih broo.

Yamaha bilang, tahun ini YRA fokus mendidik pembalapnya menunggang motor sport 600cc, Yamaha pun menambahkan embel-embel Gold pada nama programnya, jadi Yamaha Riding Academy (YRA) Gold. Salah satu alasannya yaa karena kelas ini kelas yang lebih bergengsi dibanding kelas underbone. Yah jelas lahhh, jauh lebih bergengsi. Dilihatnya juga jauh lebih keren. Denger teriakan mesinnya aja saat full throttle bikin merinding, rasanya pengen nyicipin. Hehehee.

Ada 10 pembalap Yamaha yang ikutan YRA Gold. Mereka digembleng untuk mengembangkan skill balapan mereka dengan motor sport bermesin gede. Instruknya pun orang Jepang, namanya Yoshiyaki Kato. Sayangnya, ane gak tau latar belakang Kato san, tapi yang pasti doi paham teknik-teknik balapan. Makanya jadi instruktur. Kalo doi jago masak, pasti udah jadi Chef di Hotel atau restoran besar.

Di YRA pertama pada Juli lalu, 10 pembalap muda Yamaha macam Sigit PD, Sudarmono, Florianus Roy, Anggi Permana, M Zaki dan lima pembalap lainnya, dilatih untuk mengembangkan knowledge mereka tentang motor sport. Mulai dari apa itu rebound, bagaimana mengaturnya, bagaimana posisi riding yang benar, bagaimana cara mengendalikan motor saat akan masuk tikungan dan banyak lagi teori lainnya. Nah, di YRA kedua yang dilaksanakan di sirkuit Sentul, pada Kamis (10/10) kemarin, 10 pembalap Yamaha itu dihadapkan pada latihan praktek. Di sini jelas jadi latihan dan pelajaran paling ditunggu-tunggu.

Sejak pagi mereka sudah diberi pelatihan teori sekitar 1 jam. Kemudian mereka menjajal dan membuktikan teori itu di sirkuit dalam beberapa lap.

Kemudian mereka mencoba beberapa lap. Dan sekitar 3-5 lap, mereka diminta untuk menuliskan apa yang kurang dari setingan motornya khususnya di sektor suspensi. Misalnya, saat masuk R1 setelah straight, motor berasa limbung dan ban sedikit goyang. Terus di R lainya motor terasa kayak gini dan kayak gitu. Nah, dari masalah-masalah yang mereka catat itu, mereka diminta memperbaiki atau mencari setingan yang tepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi di R1 dan R-R lainnya.

Mereka mengerjakan sendiri, bukan mekanik yang mengerjakan. Mekanik hanya mengawasi dan membantu kalau ada yang tak bisa dikerjakan oleh mereka sendiri. Kata Kato san, hal ini diharapkan dapat membentuk jiwa yang mandiri dan tak ketergantungan oleh mekanik. Selain itu, mereka akan lebih mengenal dan paham pada motor tunggangan mereka sendiri. “Kalau mereka sudah terbiasa seperti ini, kelak saat balapan akan mempercepat proses seting. Kalau sudah begitu, jelas bisa menghemat waktu, tenaga, pikiran, ban, dan banyak lagi,” kata Kato san.

Setelah mereka masuk pit usai melumat beberapa lap, mereka mengerjakan setingan yang menurut mereka masih kurang. Setelah itu, mereka kembali ke trek untuk membuktikan hasil setingan mereka. Apakah sudah lebih baik atau belum. “Begini… Pembalap yang tau masalahnya dimana, jadi kalau mereka yang mengerjakan setingan sendiri tentu akan lebih cepat karena mereka paham seberapa besar ubahan setingan yang dibutuhkan untuk gaya balap mereka sendiri. Kalau disuruh mekanik yang ngerjain, mekanik nggak akan tau seberapa besar masalah yang dirasakan. Dan hasil antara pengerjaan mekanik dan mereka sendiri jelas akan berbeda,” tambah Saeful Anwar, Safety Riding Instructor YRA.

Dan hasilnya terbukti bro en sis. Ada perbaikan lap time sekitar 4-5 detik setelah mereka menenseting motor mereka sendiri. “Saat ini kami masih fokuskan mereka ke body knowledge, belum ke mesin. Dan pada akhir bulan nanti, mereka akan ikut YRA Gold International di Sirkuit Sugo, Jepang, untuk melatih riding style mereka,” tambah Kato.

“Di Jepang mereka juga akan diuji lagi hal ini. Seberapa cepat mereka menyelesaikan setingan. Tentunya catatan setingan mereka hari ini akan dibawa ke sana. Tapi beda sirkuit tentu akan berbeda setingan. Jadi, di sana untuk pengembangan riding skill dan body knowledge mereka,” tambah Saeful.

Pendidikan balap macam ini jelas sangat bermanfaat dan akan berpengaruh pada prestasi balap mereka di balapan motor sport cc besar, bukan bebek.

Coba dari dulu para pembalap Indonesia dididik macam begini, tentunya prestasi pembalap Indonesia di balapan dunia pasti berbeda dibanding tahun ini.

About Go Jay
Motivator Diri Sendiri

6 Responses to Coba Dari Dulu Melatih Pembalap Indonesia Kayak Gini, Pasti Sekarang Kondisinya Berbeda

  1. TheStealthman says:

    Berarti telat ya… Biarin deh dari pada enggak.. ya gk..😛

  2. harusnya memang gitu…
    jangan terlalu lama balap bebek, susah berkembangnya..

  3. ipanase says:

    gazzzzzzzzzzzzzzzzz , jangan kelamaan main bebek, bahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: