Kampung ku, Surga Tinggal Cerita

Aku mungkin satu-satunya anak yang tak pernah punya impian sejak kecil. Saat guru ku bertanya apa cita-cita ku, aku selalu menjawab dengan gelengan kepala. Aku tak tahu ingin jadi apa saat besar nanti. Yang aku tahu hanya bermain dan meminta uang jajan kepada orang tua ku. Beruntung, kondisi ekonomi keluarga ku yang pas-pasan membuat ku harus mengubur hasrat untuk jajan dan membuat otak ku berputar bagaimana bisa jajan tanpa harus menadahkan tangan ke orang tua.

Aku mencari uang jajan dengan menjual rebung (anak bambu yang baru keluar dari tanah) yang aku cari di pinggir sungai Ciliwung dan menjadi pemetik daun pisang batu untuk pembungkus lontong atau pepes. 5 butir rebung aku jual seharga Rp 250,- dan sekali memetik daun pisang aku mendapat upah Rp 100,-.

Aku tinggal di sebuah perkampunya di bilangan Jakarta Selatan, di bantaran sungai Ciliwung. Meski di bantaran Ciliwung, tapi sejak pertama aku lahir pada tahun 1981, aku tak pernah ketakutan pada bencana banjir tahunan. Dulu Ciliwung sangat bersahabat dengan warga di tempat ku tinggal. Tak seperti sekarang, Ciliwung begitu sering murka, marah dan merusak rumah kami.

Kampung ku berada di Jl. Binawarga II, Rawajati Pancoran Jakarta Selatan. Dulu orang-orang memanggil kampungku dengan sebutan kampung Bawe (bawah). Aku tak tahu persis dari mana asal nama itu. Karena sejak aku dilahirkan, nama itu sudah ada.

Mungkin tak banyak orang yang tahu kondisi tempat ku tinggal seperti surga. Persis seperti apa yang dinyanyikan KoesPlus kalau tanah kita ini tanah surga. Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman.

Pernah suatu ketika, seorang pendatang dari Bandung berdarah Garut terheran-heran melihat keasrian kampung ku di perbatasan Jakarta Selatan dan Timur. Dulu segala macam hewan liar dan peliharaan ada di sana, seperti kera liar, ular sanca, kobra dan segala jenis ular. Musang, lingsang dan biawak pun beranak pinak. Hewan peliharaan banyak seperti sapi, kambing, kerbau, ayam, bebek, angsa, kucing kecuali anjing dan babi.

Beragam pohon buah pun tubuh subur, mulai dari nangka landa/sirsak, kecapi, buni, kebembem, bacang, salak, pisang, kemang, rambutan, nangka, kelapa, duren, kedondong, belimbing, jambu air dan batu, sawo, duku, melinjo, jamblang dan segal buah yang mungkin sulit didapat di pasar. “Aku tinggal di kampung yang jauh dari Jakrta, tapi kampung ku tak seperti ini. Gila, di sini seperti di kampung, padahal ini Jakarta, apa aja ada,” teriaknyan terheran-heran saat jalannya terganggu oleh sekelompok kera liar yang berjalan menju tepian sungai.

Perkampungan tempat ku tinggal dikelilingi oleh barisan pohon karet besar. Mereka jadi barikade pelindung kampung kami. Dari luar, orang asing tak akan menyangka ada perkampungan di balik pepohonan besar itu. Memasuki jalan setapak berlapis tanah merah dan kerikil, alang-alang dan jelaga tumbuh subur di sisi kiri dan kanan setinggi tubuh orang dewasa. Di kejauhan terlihat beberapa puncak pohon sengon dan randu. Tak jauh dari jalan setapak, pohon jambu batu jadi tempat aku dan teman sebaya berteduh sambil menikmati hembusan angin membawa layang-layang yang putus dari benang. Jalan itu sejauh hampir 1 km menuju perkampungan ku.

Sekitar 300 meter dari muka jalan masuk perkampungan ku, sebuah lapangan bola terbentang lebar yang rela rumputnya diinjak-injak sepatu bergigi. Meski konturnya sedikit tak rata, namun lapangan itu tak pernah sepi dari orang-orang yang mulai kehilangan tempat menendang bola. Lapangan itu pun dikelilingi alang alang. Di sebelah utara ada bukit yang dipenuhi alang-alang dan sebuah pohon karet besar seolah jadi penunggunya. Di sebelah selatan, semak belukar setinggi pinggang membentang selebar 30 meter sebelum berakhir di bibir sungai Ciliwung berpagar pohon bambu. Sementara di sebelah timur, ada jalan setapak meju perkampungan ku. Aku harus melewati lapangan itu setiap mau pergi dan kembali ke rumah.

Aku masih ingat 4 pohon cengkeh menjulang tinggi ke angkasa di depan rumah ku. Setiap tahun, setidaknya aku dan nenek ku bisa mengumpulkan 10 kg cengkeh. Aku tak tahu persis berapa nenek ku menjual hasil bumi itu.

Selain cengkeh, ada juga pohon duren, mangga, jambu batu, papaya, kelapa dan pohon pisang batu. Halaman rumah ku cukup luas dan biasa dipakai untuk main layang-layang dan kelereng. 70 meter di muka ada tepian sungai Ciliwung yang dipagari barisan pohon bambu. Dulu air Ciliwung bening. Saat itu di tahun 80an, aku masih sering mandi dan mencuci pakaian di sungai.

Di kampungku, haram hukumnya membuang sampah ke kali. Secara bergotong royong kami membuat tempat sampah besar yang setiap hari sampahnya habis dimakan api.

Beberapa tahun kemudian, satu persatu tiang pancang mulai menancap di tanah moyang ku. Perkebunan karet berubah jadi Mall. Barisan pohon karet yang jadi barikade dan alang-alang berubah jadi pohon batu yang besar dan kokoh. Angkuhnya tak terkira hingga air hujan pun ditepisnya. Hujan tak lagi bisa menancapkan butir airnya ke dalam tanah, tak lagi diserap pohon dan rumput liar. Berbondong-bondong berlari terlunta ke sungai.

Kemudian, lapangan yang setia menampung tetesan keringat yang jatuh dari tubuh bocah kampung yang bermain bola, berubah jadi bangunan besar yang megah. Tak ada lagi tanah lapang, dan sepak bola jadi barang yang langka dan mahal. Kini kampungku tak lagi dilindungi oleh barisan pohon besar yang rindang.

Pada tahun 1996, untuk kali pertama aku merasakan kebanjiran. Banjir besar merendam kampung ku dan sejak saat itu Ciliwung airnya mulai keruh dan semakin keruh. Tahun 2002 kembali terjadi banjir sukup besar. Airnya mencapai 3 meter menenggelamkan rumah ku. Selama 2 hari air merendam rumah dan meluluhlantakkan isi rumah.

Kemudian pada tahun 2007 banjir kembali melanda. Kali ini banjir lebih parah karena sebagian besar kota Jakarta lumpuh akibat banjir baik dari luapan sungai maupun air hujan yang tak tertampung di parit.

Ini jadi banjir terparah yang aku alami. Airnhya nyaris merendam seluruh rumah ku, hanya tersisa ujung rumah sekitar setinggi 1 meter. Semua porak-poranda. Lemari berpindah dari satu kamar ke kamar lain. Dari situ terlihat, putaran air di dalam rumah cukup kencang hingga mampu memindahkan lemari seukuran 1×2 meter. Saat banjir mulai surut, hidup seperti dari nol lagi.

4 tahun kemudian, tepatnya di 2011, banjir kembali melanda Jakarta dan kembali merendam rumah ku. Dan sejak saat itu, banjir Ciliwung tak lagi jadi banjir 5 tahunan tapi tahunan. Setiap tahun Ciliwung selalu meluap dan merendam rumah ku. Parahnya lagi, banjir di 2014 ini, rumah ku sudah 7 kali terendam banjir sedalam 3 meter dan meninggalkan sampah dan lumpur berbau busuk. Banjir datang tak lagi setahun sekali, tapi tiap minggu sejak awal tahun 2014.

Kini surga itu hanya tinggal cerita. Ciliwung tak lagi ramah.

About Go Jay
Motivator Diri Sendiri

5 Responses to Kampung ku, Surga Tinggal Cerita

  1. ipanase says:

    berduka,,, ndak nyangau di pulau jakarta ada seperti itu, tata kkota juga berpengaruh banget

  2. Amir Hamzah says:

    spt-nya pernah mendengar cerita spt ini dari seorang teman,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: