Cepat Sembuh, Sayang – 2013

Suhu badannya meninggi, gemetar, tangannya mendekap berusaha menghangatkan diri. Tubuhnya yang semakin kurus meringkuk mengusir rasa dingin yang mencengkeram, meski cuaca di luar sedang panas panasnya.

Aku hanya bisa menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dan tumpukan bantal, agar hawa dingin yang ia rasa segera sirna. Aku tak tahu sedingin apa, tapi dari gemetar tubuhnya, mungkin seperti di puncak semeru tanpa jaket dan sepatu.

Sesekali ku peluk tubuhnya yang panas hingga tubuhku berkeringat. Aku yakin, hawa tubuh yang ku salurkan bekerja lebih baik dari tumpukan selimut dan bantal. “Sayang, kamu baik-baik saja..?” tanya ku dengan nada datar.

Aku berusaha menyembunyikan kesedihan melihat penderitaanya, melawan rasa sakitnya yang dokter pun belum tau apa yang sedang ia derita.

“Aku tak kuat.. Aku tak kuaat.. Dingiin…” parau suaranya bergetar. Bibir kecil yang membiru, tampak mengering seperti tanah merah di musim kemarau. Suara gigi beradu karena menggigil terdengar jelas.

Aku kembali mendekapnya erat tanpa peduli tubuhku semakin basah oleh keringat. Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan segera menyudahi penderitaannya. Air mata ku tak terbendung, mengucur dari sudut mata membasahi seprai kasur alas tidurnya.

Dua kali dalam sehari, dia harus mengalami hal yang sama. Suhu tubuh meninggi dan dingin menggerayangi. Saat dingin perlahan menghilang, berganti dengan kucuran keringat. “Sayang, tolong ambilkan pakaian ku di lemari, sekalian pakaian dalam ku. Yang aku pakai sudah basah oleh keringat,” pintanya pada ku.

Tulang iga yang membungkus organ di dalam dada tampak jelas terlihat. Dia semakin kurus hingga lekuk-lekuk tulang dari leher hingga ke ujung kaki terlihat begitu jelas. Kulit putihnya yang kencang mulai mengeriput seiring penyusutan ukuran dan bobot tubuh. Payudaranya tak lagi kencang, kempot seperti nenek-nenek.

Aku basuh tubuhnya dengan kain agak basah setelah direndam air hangat. Setiap hari aku harus melakukan hal itu. Tanpa ku sadar, lemak di tubuhku pun menyusut karena lelah, kurang tidur dan sering ikut berkeringat saat memeluknya.

“Kamu tampak kurus, wajah mu mulai tirus. Maaf yah membuat mu seperti ini,” ucapnya usai menanggalkan pakaian basahnya dan mengganti dengan baju yang aku ambil dari lemari kayu. “Ahh, masak sih..? Bagus doong, diet tanpa harus mengurangi porsi makan,” canda ku sambil tertawa seolah dia tak mengalami apa-apa. Sambil duduk di tepi ranjang, kami berbincang tentang masa lalu dan sakit yang diderita.

7 bulan penyakit itu bersarang. Beberapa rumah sakit yang ku datangi hanya berspekulasi tantang sakit yang diderita. Doa dari teman dan keluarga berterbangan ke langit setiap pagi, siang dan malam, berharap kesembuhan.

Sesekali kami menghirup udara segar. Wajah pucatnya terpapar cahaya matahari pagi yang menembus celah dedaunan. Dari kursi di tengah taman, aku lihat pandangan kosongnya. Air mata sering membahasi pipinya yang tak lagi merona.

“Penyakit apa yang ada dalam tubuh ku? Apakah ada orang yang sakit hati dengan ku.? Apakah ada salah yang ku lakukan sehingga aku harus menebusnya seperti ini.?” bisiknya seraya bertanya pada Tuhan. Hatinya menjerit, menangis, berteriak meski tubuhnya mematung tak bergerak.

Perlahan aku pegang tangannya, tak kencang dan tak kendur. Telapak tangan kami saling menyatu namun tak saling menggenggam, hanya terkait oleh lekukan jari. Perlahan kami kembali ke rumah dan kembali dia baringkan tubuh di ruang 5×6 meter. “Sayang, tolong padamkan lampunya. Mataku mulai lelah, terlalu silau untuk membuka mata.”

Ku usapkan tangan ku ke rambutnya, pipinya, alisnya. Ku kecup ujung hidungnya, matanya, alisnya dagunya, keningnya dan bibirnya. “Selamat istirahat sayang. Panggil aku jika kau butuh sesuatu.”

Aku berjalan pelan menuju cermin. Aku melihat wajah ku yang mulai tirus seperti orang tak terurus. Kumis dan jenggot tumbuh tak beraturan. “Kamu tampak kurus, wajah mu mulai tirus. Maaf yah membuat mu seperti ini,” kata-katanya terngiang di kepala ku saat sesosok wajah dalam cermin ada di hadapan ku. Butiran air mulai keluar dari sudut mata. Dalam hati aku hanya bisa berkata. “Cepat sembuh sayang”.

About Go Jay
Motivator Diri Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: