Cepat Sembuh, Sayang – 2013

Suhu badannya meninggi, gemetar, tangannya mendekap berusaha menghangatkan diri. Tubuhnya yang semakin kurus meringkuk mengusir rasa dingin yang mencengkeram, meski cuaca di luar sedang panas panasnya.

Aku hanya bisa menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dan tumpukan bantal, agar hawa dingin yang ia rasa segera sirna. Aku tak tahu sedingin apa, tapi dari gemetar tubuhnya, mungkin seperti di puncak semeru tanpa jaket dan sepatu.

Sesekali ku peluk tubuhnya yang panas hingga tubuhku berkeringat. Aku yakin, hawa tubuh yang ku salurkan bekerja lebih baik dari tumpukan selimut dan bantal. “Sayang, kamu baik-baik saja..?” tanya ku dengan nada datar. Read more of this post

Advertisements

Cinta Di Pesan Singkat – 2003

“Beeb.. Beeb..” Sura khas nada dering pesan singkat Nokia berpadu dengan getar. Air di dalam gelas bergelombang kecil terimbas getar yang tersalur melalui daging meja kayu di sudut kamar ku. Tak ada lagi yang diharap kecuali suaranya yang di konversikan dalam bentuk tulisan.

Aku selalu menunggu handphone ku berdiring dan aku selalu ingin dering itu bersal dari hubungan handphone gadis di seberang sana yang tersambung oleh ikatan tak kasat mata.

Setiap kata yang dikirim adalah surga. Tampa ada rasa namun mampu membuat hati jadi ceria. Meski mata terasa lelah, namun nggan untuk beranjak ke lain dunia demi sepenggal kata. Kadang kami hanya bicara melalui kata-kata yang dibatasi jumlahnya. Mengolah 144 karakter agar menjadi sebuah kalimat yang bisa dipahami masksudnya kadang tidaklah mudah. Tapi karena cinta, tanpa disadari hal itu jadi seperti keahlian yang datang tiba-tiba.

Tak terasa, 1 tahun aku hanya mengenalnya lewat suara dan kata dalam pesan singkat. Aku tak tahu bagaimana rupa wajahnya, namun hati ku seperti mengenalnya lebih dari aku mengenal sahabat dekat ku. Aku jatuh cinta saat pertama mendengar suaranya di sebuah ruang 1×1 meter. Setiap suara yang ku keluarkan, aku harus membayar dalam bentuk rupiah yang terpampang di hadapan ku. Kotak kecil berukuran 10×30 cm pembungkus lampu LED 7 Segment, terus saja mencatat jumlah rupiah yang harus aku bayar sejak pertama dia mengangkat telpon dari ku. Dari Kamar Bicara Umum [KBU] 1×1 meter itu, cinta kami mulai tumbuh.

Kami terus saja behubungan melalui suara tampa pernah berjumpa. Pesan singkat memupuk rasa dalam hati menjadi cinta sejati meski aku tak tahu bagaimana rupa gadis yang aku ajak bicara di ujung sana.

Hingga satu masa aku mengajaknya berjumpa di akhir pakan awal bulan Oktober 2004. Bulan dimana jadi hari pertama ku memiliki uang dari hasil jerih payah ku sendiri. Jumlahnya memang tak besar, tapi cukuplah untuk seporsi Pizza dan dua segelas Coca-cola.

Aku belum pernah melihat wajahnya bahkan dari selembar foto. Pun demikian dengan dia, tak pernah tau bagaimana rupa dan wujud ku. Tapi kami saling jatuh cinta hanya melalui suara dan kata yang dikonversi menjadi aksara.

Kisah Suami Dengan Seorang Anak Yang Ditinggal Mati Isteri

Di balik benar atau tidak kisah yang diceritakan dalam tulisan di bawah ini, setidaknya ada nulai-nilai dan pelajaran hidup yang bisa kita petik. Kisah ini bersumber dari sebuah milis pecinta Pulsar “bajaj_pulsar_indonesia@yahoogroup.com.

Selamat membaca..!!

Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan,karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku. Read more of this post

Kematian Adik Ku Karena Aku

Image

Malam itu hujan mengguyur kota Bandung dengan derasnya. Gemercik suaranya seperti nyanyian rindu langit pada bumi, lembut mendayu, namun airnya deras menghanyutkan harapan ku untuk meniti malam bersama seorang gadis yang belum lama aku kenal.

Di sela waktu istirahat perjalanan touring dari Yogyakarta menuju Bandung, aku dan rekan sempat beberapa kali menginap di hotel. Di hotel kota terakhir tujuan touring, Bandung, di Aston Primera Pasteur, aku menghabiskan tiga per empat malam dengan berbincang berdua di sebuah restoran di sudut ruang megah dengan aksen kayu dan aluminium. Sebuah paduan sempurna manakala temaram lampu hias yang memancarkan cahaya keemasan membalut ruang itu.

Dua cangkir kopi, seporsi chicken wings dan segelas strawberry milkshake, menemani perbincangan ku dengan teman yang baru setahun aku kenal, Erica, namanya.

Perbincangan tentang hidup, sungguh nikmat untuk dibagi. Aku seperti ada di lorong waktu yang bisa aku kendalikan kemana aku akan tiba bersama kisah-kisah hidup kami berdua. Aku merasa seperti barada di dalam sebuah ruangan dengan suguhan panorama kehidupan yang bergerak dinamis, kadang melambat bahkan kadang seperti terhenti. Hingga suatu titik saat hari berada di batas abu-abu antara malam dan pagi, aku menanyakan tentang berapa saudara yang dia miliki. “Aku anak pertama dari tiga bersaudara, dua perempuan dan satu laki-laki,” jawabnya lembut. “Tapi adik terakhir ku yang laki sudah pergi untuk selamanya, bang,” lanjutnya pelan dengan suara parau.

Innalillahi.. kenapa?” tanya ku.

Dia terjatuh dari atap rumah tetangga ku saat main layang-layang,” jawabnya dengan suara yang semakin berat.

Saat itu aku bisa merasakan kesedihan mendalam di hatinya. Air mukanya tak bisa menyembunyikan kesedihan. Dan aku bisa menyaksikan jelas duka itu dari matanya. Dengan sedikit senyuman dari bibir tipisnya, dia berusaha menyembunyikan kesedihan itu dari ku.

Tapi dia tak bisa membohongi dirinya sendiri, sudut mata yang mulai digenangi air mata tak mungkin berdusta.

Dengan berat hati aku coba bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya, Rengga. Walau dalam hati ku sesungguhnya ingin mengalihkan pembicaraan agar dia tak terbenam dalam kesedihan masa lalunya. Tapi sayang, kalimat tanya itu terlontar sebelum aku perintahkan.

Semua itu salah ku,” ucapnya lemah.

Salah mu? Memang kenapa?” balas ku bertanya.

Dengan setengah menahan tangis, dia menceritakan kisah itu. Bibirnya bergetar kuat menahan tangis. Kata demi kata terangkum menjadi sebuah cerita pedih yang membuatnya menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kepergian Rengga untuk selamanya. Bahkan hingga saat ini, dia masih menyalahkan dirinya.

Dia mengisahkan pada ku, beberapa hari sebelum kejadian itu, Rengga meminta dirinya untuk tak pergi. Rengga berharap dirinya bisa menemaninya di malam pesta ulang tahunya yang ke-9. “Saat itu aku mau pergi kerja. Sebagai mahasiswi S2 yang sambil bekerja adalah sebuah kenikmatan karena bisa mendapatkan uang dari jerih payah sendiri.

Beberapa hari sebelum peristiwa memilukan itu, Rengga meminta ku untuk ada dan menemaninya saat malam pesta ulang tahunnya. Tapi aku tak bisa memenuhi permintaannya. Sebelum aku pergi di siang itu, di rumah hanya ada aku dan Ega (sapaan Rengga). Karena aku sedang menikmati pekerjaan baru ku, aku terpaksa meninggalkannya sendiri.

Saat dia meninggalkan Rengga sendiri, tak sedikit pun terbesit di pikirannya akan terjadi hal buruk. Bahkan saat dia sedang bekerja sekali-pun, semua berjalan baik-baik saja. “Tiba-tiba aku menerima telpon dari kakak ku dan berkata kalau adik ku terjatuh dari atap rumah tetangga saat main layang-layang.

Bagai tersambar petir, sekelilingnya seperti lenyap, pikirannya hanya ada adik tercintanya. “Aku tak bisa berfikir jernih kala itu. Aku tak bisa melihat apa yang ada di sekelilingku. Yang aku lihat hanya baying wajah adik ku sebelum aku meninggalkannya.

Tanpa banyak berfikir aku langsung meninggalkan pekerjaanku. Sambil mengumpulkan segenap kekuatan, aku langsung pergi ke rumah sakit tempat adik ku dirawat.

Setibanya di rumah sakit ternyata Rengga sudah dalam kondisi koma.

Saat aku tiba di rumah sakit, Rengga sudah koma. Kakak ku menceritakan kondisi terakhir Rengga sebelum dibawa ke rumah sakit. Dia mengerang menahan sakit di kepala bagian kanannya. Aku tak tahan mendengarnya. Dan aku tau itu, dia pasti sangat kesakitan, walau tak ada tampak luka di luar kepalanya.

Rengga mengalami luka dalam di kepala akibat benturan saat terjatuh. Klinik terdekat menyarankan agar adiknya dibawa ke rumah sakit besar untuk diperiksa luka dalam di kepalanya.

Para pekerja medis di Instalasi Gawat Darurat bekerja cepat. Sambil berusaha menahan ronta tubuh mungil Rengga yang menahan sakit, para pekerja medis berusaha untuk memberikan pertolongan secepat dan sebaik mungkin.

Rasa sakit yang teramat sangat, rupanya membuat Rengga tak bisa menahan sadarnya lebih lama. Saat itu juga Rengga dinyatakan koma. Beberapa hari di masa koma nya, kondisi Rengga dinyatakan kritis hingga detak jantungnya terhenti.

Lebih dari 10 menit, Rengga terbaring di atas ranjang rumah sakit tanpa detak jantung. Tim dokter terus berusaha menolongnya dengan melakukan resuistasi dengan memberikan kejutan listrik pada dada Rengga. Dokter sesungguhnya tak mau memaksakan untuk terus menggunakan mesin kejut pemicu jantung mengingat usia Rengga yang masih di bawah 10 tahun, namun karena keluarga memaksa, dokter pun terus melakukannya. Usaha itu tak sia-sia. Aliran do’a yang terus keluar dari mulut para keluarga, jantung Rengga kembali berdetak. Namun dia tetap dalam kondisi koma.

Beberapa hari berselang, kondisi Rengga dinyatakan mulai membaik hingga tim dokter pun berani mengambil tindakan untuk melakukan operasi kepala Rengga.

Operasi sudah dilakukan namun Rengga masih saja berada dalam kondisi tak sadarkan diri. Bahkan beberapa kali kondisinya kembali dinyatakan kritis.

Dua bulan berlalu. Tubuh mungil itu terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan selang dan kabel di sekujur tubuhnya yang membantunya bertahan hidup.

Segala upaya dilakukan orang tuanya agar sang adik bisa kembali pulih seutuhnya. Biaya yang tak sedikit, membuat orang tuanya harus menjual beberapa barang berharga, termasuk mobilnya.

Selama itu, aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali menyalahkan diri ku sendiri,” aku Erica.

Hampir habis harta terjual, namun kondisi Rengga tak juga ada perubahan. Selama masa perawatan Rengga, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyendiri di dalam kamar dan sesekali mengunjungi Rengga, memandang penuh harap ke wajah mungil yang terbaring itu.

Andai waktu bisa diputar, mungkin dia akan memutarnya ke masa dimana sang adik memintanya untuk tak pergi.

Setelah dua bulan berlalu, kondisi adik ku dinyatakan banyak mengalami kemajuan untuk sembuh. Tapi di masa dia dinyatakan mengalami kemajuan, tiba-tiba kondisinya drop dan kembali kritis hingga akhirnya Rengga benar-benar maninggalkan kami.

Waktu itu, apapun akan dilakukan keluarga ku demi kesembuhan adik ku meski kami harus kehilangan rumah kami. Yang penting adikku bisa kembali.

Tapi Rengga sudah pergi meninggalkan sepenggal cerita indah dalam kehidupannya. Di usia ke-9 tahun, Rengga meninggalkan keluarga tercinta untuk selamanya.

Aku tak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Bahkan hingga detik ini setelah empat tahun berlalu, aku masih menyalahkan diriku sendiri. Kematian adik ku karena aku,” sesalnya.

Aku tak mau terus mendengarkan ceritanya. Tapi aku tak punya kalimat untuk mengalihkan pembicaran. Aku hanya tertegun haru sambil menahan sedih. Aku tak mampu menatap matanya yang berkaca-kaca…

Photo: Google

Pedang Kecil Yang Sakti

Sebelumnya gw mau cerita dikit tentang diri gw (terserah lo pada mau baca atau enggak gw tetep cerita). Gw lahir sebagai seorang cowok (Alhamdulillah barusan ngecek di toilet masih cowok) dari keluarga 3S alias Sangat Sederhana Sekali (emangnya rumah aja yang ade tipe SSS). Maklum ortu gw gak punya pendidikan tinggi, cuma sampe esempe, itupun lulusnya dikatrol. Apaan tuh dikatrol? Yah macam ditimba gitudeh. Kayak sumur jaman dulu tuh yang belon ada pompa listriknya.

FYI ajah nih, Biar kata Papah gw cuma lulusan smp, tapi kerjanya di Hotel Horison Ancol cuyy, jadi juru masak hotel. Keren gak tuhh..? Read more of this post

Jangan Jadikan Ini Kebersamaan Terakhir

Hari ini, ketika ku tersadar betapa aku sangat mencintai mu, perlahan semua keindahan memudar bersama tetes air mata yang menghaplus debu di wajah ku. Yang terlihat haya kau tanpa senyum dengan penuh guratan cinta dan kasih sayang untuk ku.

Ku sadar betapa aku sangat mencintai mu ketika kau merintih menahan sakit yang tak kau ungkapkan dari bibir kecil mu. Semua kau pendam dan tersimpan dalam-dalam hingga aku tak menyadari sakit yang kau rasakan.

Pertikaian kecil yang sering terjadi, terkadang membuatku bosan dengan mu. Namun kau masih setia mendampingi langkah ku tanpa perduli sakit, pahit dan getirnya hidup yang kau jalani bersama ku.

Terkadang naluri liar ku pun berkata untuk bermain dengan keindahan semu pembawa petaka. Menebar benih kenikmatan berbuah laknat. Mengajak ku menari-nari ditepian jurang neraka. Tapi Syukur Alhamdulillah, Allah masih melindungi kehormatan ku sebagai suami dan ayah dari seorang putra serta nama baik keluarga ku.

Saat ku membelai rambut mu, membasuh peluh di dahimu dan mendekap mu erat, tiba-tiba rasa takut yang teramat sangat datang menghampiri ku. Berjuta bayangan menakutkan bergelayut diatas kepalaku dan menempel di setiap sudut dinding otak ku.

Hati kecil ku pun berkata, “Ya Allah, jangan jadikan ini adalah kebersamaan terakhir ku.”

Masih banyak mimpi yang belum kami raih. Masih banyak angan yang belum kami wujudkan dan masih banyak kisah yang belum terukir dalam tinta sejarah hidup kami. Jadi ku mohon kepada Mu, biarkan kami hidup lebih lama lagi, menyaksikan mentari datang dan pergi, mendengarkan nyanyian alam dan mewarnai hidup dengan kisah.

Jangan Cium Aku Sekali

Masih terasa lembutnya belaian tangan mu

Masih teringiang desahan nafas mu

Menari nari dalam angan dan khayalan liar ku…

Lakukan jika kau mau

Lakukan semau mu

Aku tak akan marah aku tak akan lari dan aku tak akan sembunyi…

Aku tau kau mau

Aku tau kau tau apa yang ku mau

Aku tau kau sedikit malu tapi aku menunggu ungkapan ingin mu…

Lakukan jika kau mau

Lakukan semau mu

Aku tak akan marah aku tak akan lari dan aku tak akan sembunyi

Tapi jangan kau cium aku hanya sekali…